<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ikenugraha&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://ikenugraha.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ikenugraha.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Mar 2010 05:50:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ikenugraha.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ikenugraha&#039;s Blog</title>
		<link>http://ikenugraha.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ikenugraha.wordpress.com/osd.xml" title="Ikenugraha&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ikenugraha.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Proses Kehamilan</title>
		<link>http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/proses-kehamilan/</link>
		<comments>http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/proses-kehamilan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 05:50:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikenugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[asuhan kebidanan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan reproduksi]]></category>
		<category><![CDATA[obstetri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/proses-kehamilan/</guid>
		<description><![CDATA[Proses Kehamilan // &#60;![CDATA[// // &#60;![CDATA[// // &#60;![CDATA[// Proses Kehamilan DEFINISI Kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita, yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian akan diakhiri dengan proses persalinan, PEMBUAHAN Pembuahan (Konsepsi) adalah merupakan awal dari kehamilan, dimana satu sel telur dibuahi oleh satu sperma. Ovulasi (pelepasan sel telur) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikenugraha.wordpress.com&amp;blog=12348203&amp;post=4&amp;subd=ikenugraha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><a title="Proses Kehamilan" href="http://radenbeletz.com/proses-kehamilan.html">Proses Kehamilan</a></h1>
<p> // &lt;![CDATA[//<br />
// &lt;![CDATA[// <ins><ins></ins></ins></p>
<p>// &lt;![CDATA[// <ins><ins></ins></ins></p>
<p><strong>Proses Kehamilan</strong></p>
<p>DEFINISI<br />
<em>Kehamilan</em> adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita, yang sebelumnya diawali dengan proses pembuahan dan kemudian akan diakhiri dengan proses persalinan,</p>
<p>PEMBUAHAN</p>
<p>Pembuahan (Konsepsi) adalah merupakan awal dari kehamilan, dimana satu sel telur dibuahi oleh satu sperma.</p>
<p>Ovulasi (pelepasan sel telur) adalah merupakan bagian dari siklus menstruasi normal, yang terjadi sekitar 14 hari sebelum menstruasi. Sel telur yang dilepaskan bergerak ke ujung tuba falopii (saluran telur) yang berbentuk corong , yang merupakan tempat terjadinya pembuahan.<br />
Jika tidak terjadi pembuahan, sel telur akan mengalami kemunduran (degenerasi) dan dibuang melalui vagina bersamaan dengan darah menstruasi. Jika terjadi pembuahan, maka sel telur yang telah dibuahi oleh sperma ini akan mengalami serangkaian pembelahan dan tumbuh menjadi embrio (bakal janin).</p>
<p>Jika pada ovulasi dilepaskan lebih dari 1 sel telur dan kemudian diikuti dengan pembuahan, maka akan terjadi kehamilan ganda, biasanya kembar 2. Kasus seperti ini merupakan kembar fraternal.<br />
Kembar identik terjadi jika pada awal pembelahan, sel telur yang telah dibuahi membelah menjadi 2 sel yang terpisah atau dengan kata lain, kembar identik berasal dari 1 sel telur.</p>
<p>Pada saat ovulasi, lapisan lendir di dalam serviks (leher rahim) menjadi lebih cair, sehingga sperma mudah menembus ke dalam rahim. Sperma bergerak dari vagina sampai ke ujung tuba falopii yang berbentuk corong dalam waktu 5 menit.<br />
Sel yang melapisi tuba falopii mempermudah terjadinya pembuahan dan pembentukan zigot (sel telur yang telah dibuahi).</p>
<p>IMPLANTASI &amp; PERKEMBANGAN PLASENTA</p>
<p>Implantasi adalah penempelan blastosis ke dinding rahim, yaitu pada tempatnya tertanam.</p>
<p>Blastosis biasanya tertanam di dekat puncak rahim, pada bagian depan maupun dinding belakang.<br />
Dinding blastosis memiliki ketebalan 1 lapis sel, kecuali pada daerah tertentu terdiri dari 3-4 sel.<br />
Sel-sel di bagian dalam pada dinding blastosis yang tebal akan berkembang menjadi embrio, sedangkan sel-sel di bagian luar tertanam pada dinding rahim dan membentuk plasenta (ari-ari).</p>
<p>Plasenta menghasilkan hormon untuk membantu memelihara kehamilan dan memungkin perputaran oksigen, zat gizi serta limbah antara ibu dan janin.<br />
Implantasi mulai terjadi pada hari ke 5-8 setelah pembuahan dan selesai pada hari ke 9-10.</p>
<p>Dinding blastosis merupakan lapisan luar dari selaput yang membungkus embrio (korion). Lapisan dalam (amnion) mulai dibuat pada hari ke 10-12 dan membentuk kantung amnion.<br />
Kantung amnion berisi cairan jernih (cairan amnion) dan akan mengembang untuk membungkus embrio yang sedang tumbuh, yang mengapung di dalamnya.</p>
<p>Tonjolan kecil (vili) dari plasenta yang sedang tumbuh, memanjang ke dalam dinding rahim dan membentuk percabangan seperti susunan pohon.<br />
Susunan ini menyebabkan penambahan luas daerah kontak antara ibu dan plasenta, sehingga zat gizi dari ibu lebih banyak yang sampai ke janin dan limbah lebih banyak dibuang dari janin ke ibu.<br />
Pembentukan plasenta yang sempurna biasanya selesai pada minggu ke 18-20, tetapi plasenta akan terus tumbuh selama kehamilan dan pada saat persalinan beratnya mencapai 500 gram.</p>
<p>PERKEMBANGAN EMBRIO</p>
<p>Embrio pertama kali dapat dikenali di dalam blastosis sekitar 10 hari setelah pembuahan. Kemudian mulai terjadi pembentukan daerah yang akan menjadi otak dan medulla spinalis, sedangkan jantung dan pembuluh darah mulai dibentuk pada hari ke 16-17.<br />
Jantung mulai memompa cairan melalui pembuluh darah pada hari ke 20 dan hari berikutnya muncul sel darah merah yang pertama.<br />
Selanjutnya, pembuluh darah terus berkembang di seluruh embrio dan plasenta.</p>
<p>Organ-organ terbentuk sempurna pada usia kehamilan 12 minggu (10 minggu setelah permbuahan), kecuali otak dan medulla spinalis, yang terus mengalami pematangan selama kehamilan.<br />
Kelainan pembentukan organ (malformasi) paling banyak terjadi pada trimester pertama (12 minggu pertama) kehamilan, yang merupakan masa-masa pembentukan organ dimana embrio sangat rentan terhadap efek obat-obatan atau virus. Karena itu seorang wanita hamil sebaiknya tidak menjalani immunisasi atau mengkonsumsi obat-obatan pada trimester pertama kecuali sangat penting untuk melindungi kesehatannya. Pemberian obat-obatan yang diketahui dapat menyebabkan malformasi harus dihindari.</p>
<p>Pada awalnya, perkembangan embrio terjadi dibawah lapisan rahim pada salah satu sisi rongga rahim, tetapi pada minggu ke 12, janin (istilah yang digunakan setelah usia kehamilan mencapai 8 minggu) telah mengalami pertumbuhan yang pesat sehingga lapisan pada kedua sisi rahim bertemu (karena janin telah memenuhi seluruh rahim).</p>
<p>MENENTUKAN USIA KEHAMILAN</p>
<p>Secara konvensional, kehamilan dihitung dalam minggu, dimulai dari hari pertama menstruasi terakhir.<br />
Ovulasi biasanya terjadi 2 minggu sesudah menstruasi dan pembuahan biasanya terjadi segera setelah ovulasi, karena itu secara kasar usia embrio adalah 2 minggu lebih muda daripada jumlah minggu yang secara tradisional dipakai untuk menyatakan usia kehamilan. Dengan kata lain, seorang wanita yang hamil 4 minggu sedang mengandung embrio yang berumur 2 minggu.<br />
Jika menstruasinya tidak teratur, maka perbedaan yang pasti bisa lebih atau kurang dari 2 minggu.<br />
Untuk praktisnya, jika seorang wanita menstruasinya terlambat 2 minggu, dikatakan telah hamil 6 minggu.</p>
<p>Kehamilan berlangsung rata-rata selama 266 hari (38 minggu) dari masa pembuahan atau 280 hari (40 minggu) dari hari pertama menstruasi.<br />
Untuk menentukan tanggal perkiraan persalinan bisa dilakukan perhitungan berikut:<br />
- tanggal menstruasi terakhir ditambah 7<br />
- bulan menstruasi terakhir dikurangi 3<br />
- <a title="tahun" href="http://radenbeletz.com/sms-tahun-baru.html">tahun</a> menstruasi terakhir ditambah 1.<br />
Hanya 10% wanita hamil yang melahirkan tepat pada tanggal perkiraan persalinan, 50% melahirkan dalam waktu 1 minggu dan hampir 90% yang melahirkan dalam waktu 2 minggu sebelum atau setelah tanggal perkiraan persalinan. Persalinan dalam waktu 2 minggu sebelum maupun sesudah perkiraan persalinan masih dianggap normal.</p>
<p>Kehamilan terbagi menjadi periode 3 bulanan, yang disebut sebagai:<br />
- Trimester pertama (minggu 1-12)<br />
- Trimester kedua (minggu 13-24)<br />
- Trimester ketiga (minggu 25-persalinan).</p>
<p><a rel="attachment wp-att-819" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=819"><img title="Proses Kehamilan" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Proses-Kehamilan-300x279.jpg" alt="Proses Kehamilan" width="300" height="279" /></a><a rel="attachment wp-att-820" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=820"><img title="Isi Kandungan" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Isi-Kandungan-300x279.jpg" alt="Isi Kandungan" width="300" height="279" /></a><a rel="attachment wp-att-821" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=821"><img title="Gambar Ibu Hamil" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Gambar-Ibu-Hamil.jpg" alt="Gambar Ibu Hamil" width="229" height="291" /></a><a rel="attachment wp-att-822" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=822"><img title="Isi Perut Saat Hamil" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Isi-Perut-Saat-Hamil-300x279.jpg" alt="Isi Perut Saat Hamil" width="300" height="279" /></a><a rel="attachment wp-att-823" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=823"><img title="Bayi Dalam Kandungan" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Bayi-Dalam-Kandungan-300x279.jpg" alt="Bayi Dalam Kandungan" width="300" height="279" /></a><a rel="attachment wp-att-824" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=824"><img title="Hamil" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Hamil-300x279.jpg" alt="Hamil" width="300" height="279" /></a><a rel="attachment wp-att-825" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=825"><img title="Bayi Dalam Perut" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Bayi-Dalam-Perut-300x279.jpg" alt="Bayi Dalam Perut" width="300" height="279" /></a><a rel="attachment wp-att-826" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=826"><img title="Foto Ibu Hamil" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Foto-Ibu-Hamil-300x279.jpg" alt="Foto Ibu Hamil" width="300" height="279" /></a><a rel="attachment wp-att-827" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=827"><img title="Saat Hamil" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Saat-Hamil-300x279.jpg" alt="Saat Hamil" width="300" height="279" /></a><a rel="attachment wp-att-828" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=828"><img title="Gambar Bayi Dalam Perut" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Gambar-Bayi-Dalam-Perut-300x279.jpg" alt="Gambar Bayi Dalam Perut" width="300" height="279" /></a><a rel="attachment wp-att-829" href="http://ikenugraha.wordpress.com/?attachment_id=829"><img title="Hamil Tua" src="/Documents%20and%20Settings/Nanu/My%20Documents/proses-kehamilan_files/Hamil-Tua-300x290.jpg" alt="Hamil Tua" width="300" height="290" /></a></p>
<p>MENDETEKSI KEHAMILAN</p>
<p>Jika seorang wanita yang biasanya mengalami menstruasi yang teratur mengalami keterlambatan 1 minggu atau lebih, mungkin dia hamil.<br />
Pada awal kehamilan, wanita hamil bisa mengalami pembengkakan payudara dan mual, kadang disertai muntah.<br />
Pembengkakan payudara terjadi akibat bertambahnya kadar hormon wanita (terutama estrogen, juga progesteron).<br />
Mual dan muntah terjadi akibat estrogen dan HCG (human chorionic gonadotropin). Kedua hormon ini membantu memelihara kehamilan dan mulai dihasilkan oleh plasenta pada sekitar 10 hari setelah pembuahan.<br />
Pada awal kehamilan, banyak wanita yang merasa sangat lelah dan beberapa wanita mengalami perut kembung.</p>
<p>Jika seorang wanita hamil, serviksnya lebih lunak dan rahim juga lebih lunak dan membesar.<br />
Biasanya vagina dan serviks menjadi kebiruan sampai ungu, karena pembuluhnya penuh terisi darah.<br />
Perubahan ini bisa terlihat pada pemeriksaan panggul.</p>
<p>Biasanya untuk menentukan kehamilan dilakukan tes kehamilan pada darah maupun air kemih.<br />
Tes kehamilan ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) bisa dengan segera dan mudah mendeteksi kadar HCG yang rendah di dalam air kemih.<br />
Selama 60 hari pertama kehamilan yang normal dengan 1 janin, kadar HCG berlipatganda setiap 2 hari.</p>
<p>Selama kehamilan, rahim terus membesar. Pada kehamilan 12 minggu, rahim membesar keluar panggu, yaitu ke arah perut dan biasanya dapat dirasakan jika dokter memeriksa perut bagian bawah.<br />
Rahim terus membesar sampai setinggi pusar pada kehamilan 20 minggu dan sampai ke tulang iga bagian bawah pada usia kehamilan 36 minggu.</p>
<p>Cara lain untuk mendeteksi kehamilan:</p>
<p>1. Mendengarkan denyut jantung janin.<br />
Denyut jantung janin bisa terdengar melalui stetoskop khusus atau USG Doppler.<br />
Dengan bantuan steteoskop khusus, denyut jantung janin bisa terdengar pada usia kehamilan 18-20 minggu; sedangkan jika menggunakan USG Doppler, denyut jantung janin bisa terdengar pada usia kehamilan 12-14 minggu.<br />
2. Merasakan pergerakan janin.<br />
Ibu bisa merasakan gerakan janin pada kehamilan 16-20 minggu.<br />
Wanita yang sebelumnya pernah hamil akan meraskan gerakan janin ini lebih awal.<br />
3. Memeriksa rahim dengan USG.<br />
Rahim yang membesar bisa dilihat dengan USG pada kehamilan 6 minggu, demikian juga halnya dengan denyut jantung janin.</p>
<p>PERUBAHAN FISIK SELAMA KEHAMILAN</p>
<p># Kehamilan menyebabkan banyak perubahan pada tubuh, kebanyakan perubahan ini akan menghilang setelah persalinan. Jantung dan pembuluh darah.<br />
Selama kehamilan, jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output, curah jantung) meningkat sampai 30-50%. Peningkatan ini mulai terjadi pada kehamilan 6 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 16-28 minggu.<br />
Karena curah jantung meningkat, maka denyut jantung pada saat istirahat juga meningka (dalam keadaan normal 70 kali/menit menjadi 80-90 kali/menit).</p>
<p>Setelah mencapai kehamilan 30 minggu, curah jantung agak menurun karena rahim yang membesar menekan vena yang membawa darh dari tungkai ke jantung.<br />
Selama persalinan, curah jantung meningkat sebesar 30%,<br />
Setelah persalinan curah jantung menurun sampai 15-25% diatas batas kehamilan, lalu secara perlahan kembali ke batas kehamilan.</p>
<p>Peningkatan curah jantung selama kehamilan kemungkinan terjadi karena adanya perubahan dalam aliran darah ke rahim. Karena janin terus tumbuh, maka darah lebih banyak dikirim ke rahim ibu.<br />
Pada akhir kehamilan, rahim menerima seperlima dari seluruh darah ibu.</p>
<p>Ketika melakukan aktivitas/olah raga, maka curah jantung, denyut jantung dan laju pernafasan pada wanita hamil lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang tidak sedang hamil.<br />
Rontgen dada dan EKG menunjukkan sejumlah perubahan dalam jantung, dan kadang terdengar murmur jantung tertentu serta ketidakteraturan irama jantung.<br />
Semua perubahan tersebut adalah normal terjadi pada masa hamil, tetapi beberapa kelainan irama jantung mungkin akan memerlukan pengobatan khusus.</p>
<p>Selama trimester kedua biasanya tekanan darah menurun tetapi akan kembali normal pada trimester ketiga.</p>
<p>Selama kehamilan, volume darah dalam peredaran meningkat sampai 50%, tetapi jumlah sel darah merah yang mengangkut oksigen hanya meningkat sebesar 25-30%.<br />
Untuk alasan yang belum jelas, jumlah sel darah putih (yang berfungsi melindungi tubuh terhadap infeksi) selama kehamilan, pada saat persalinan dan beberapa hari setelah persalinan, agak meningkat.</p>
<p># Ginjal<br />
Selama kehamilan, ginjal bekerja lebih berat. Ginjal menyaring darah yang volumenya meningkat (sampai 30-50% atau lebih), yang puncaknya terjadi pada kehamilan 16-24 minggu sampai sesaat sebelum persalinan (pada saat ini aliran darah ke ginjal berkurang akibat penekanan rahim yang membesar).</p>
<p>Dalam keadaan normal, aktivitas ginjal meningkat ketika berbaring dan menurun ketika berdiri. Keadaan ini semakin menguat pada saat kehamilan, karena itu wanita hamil sering merasa ingin berkemih ketika mereka mencoba untuk berbaring/tidur.<br />
Pada akhir kehamilan, peningkatan aktivitas ginjal yang lebih besar terjadi pada wanita hamil yang tidur miring. Tidur miring mengurangi tekanan dari rahim pada vena yang membawa darah dari tungkai sehingga terjadi perbaikan aliran darah yang selanjutnya akan meningkatkan aktivitas ginjal dan curah jantung.</p>
<p># Paru-paru<br />
Ruang yang diperlukan oleh rahim yang membesar dan meningkatnya pembentukan hormon progesteron menyebabkan paru-paru berfungsi lain dari biasanya.<br />
Wanita hamil bernafas lebih cepat dan lebih dalam karena memerlukan lebih banyak oksigen untuk dirinya dan untuk janin.<br />
Lingkar dada wanita hamil agak membesar.</p>
<p>Lapisan saluran pernafasan menerima lebih banyak darah dan menjadi agak tersumbat oleh penumpukan darah (kongesti). Kadang hidung dan tenggorokan mengalami penyumbatan parsial akibat kongesti ini. Tekanan dan kualitas suara wanita hamil agak berubah.</p>
<p># Sistem pencernaan<br />
Rahim yang semakin membesar akan menekan rektum dan usus bagian bawah sehingga terjadi sembelit (konstipasi).<br />
Sembelit semakin berat karena gerakan otot di dalam usus diperlambat oleh tingginya kadar progesteron.</p>
<p>Wanita hamil sering mengalami heartburn (rasa panas di dada) dan sendawa, yang kemungkinan terjadi karena <a title="makanan" href="http://radenbeletz.com/tips-makan-sehat.html">makanan</a> lebih lama berada di dalam lambung dan karena relaksasi sfingter di kerongkongan bagian bawah yang memungkinkan isi lambung mengalir kembali ke kerongkongan.</p>
<p>Ulkus gastrikum jarang ditemukan pada wanita hamil dan jika sebelumnya menderita ulkus gastrikum biasanya akan membaik karena asam lambung yang dihasilkan lebih sedikit.</p>
<p># Kulit<br />
Topeng kehamilan (melasma) adalah bintik-bintik pigmen kecoklatan yang tampak di kulit kening dan pipi.<br />
Peningkatan pigmentasi juga terjadi di sekeliling puting susu. Sedangkan di perut bawah bagian tengah biasanya tampak garis gelap.</p>
<p>Spider angioma (pembuluh darah kecil yang memberi gambaran seperti laba-laba) bisa muncul di kulit, biasanya di atas pinggang. Sedangkan pelebaran pembuluh darah kecil yang berdinding tipis seringkali tampak di tungkai bawah.</p>
<p># Hormon<br />
Kehamilan mempengaruhi hampir semua hormon di dalam tubuh.<br />
Plasenta menghasilkan sejumlah hormon untuk membantu tubuh dalam mempertahankan kehamilan. Hormon utama yang dihasilkan oleh plasenta adalah HCG, yang berperan mencegah ovulasi dan merangsang pembentukan estrogen serta progesteron oleh ovarium untuk mempertahankan kehamilan.<br />
Plasenta juga menghasilkan hormon yan gmenyebabkan kelenjar tiroid menjadi lebih aktif. Kelenjar tiroid yang lebih aktif menyebabkan denyut jantung yang cepat, jantung berdebar-debar (palpitasi), keringat berlebihan dan perubahan suasana hati; selain itu juga bisa terjadi pembesaran kelenjar tiroid. Tetapi hipertiroidisme (overaktivitas kelenjar tiroid) hanya terjadi pada kurang dari 1% kehamilan.</p>
<p>Plasenta juga menghasilkan melanocyte-stimulating hormone yang menyebabkan kulit berwarna lebih gelap dan hormon yang menyebabkan peningkatan kadar hormon adrenal di dalam darah. Peningkatan kadar hormon in kemungkinan menyebabkan tanda peregangan berwarna pingk pada kulit perut.</p>
<p>Selama kehamilan diperlukan lebih banyak insulin yang dihasilkan oleh pankreas. Karena itu penderita diabetes yang sedang hamil bisa mengalami gejala diabetes yang lebih buruk.</p>
<p>PERAWATAN SELAMA KEHAMILAN</p>
<p>Pemeriksaan pada usia kehamilan mencapai 6 dan 8 minggu sangat penting untuk memperkirakan umur kehamilan dan tanggal perkiraan persalinan.<br />
Pemeriksaan fisik yang pertama kali dilakukan biasanya meliputi berat badan, tinggi badan dan tekanan darah. Kemudian dilakukan pemeriksaan leher, kelenjar tiroid, payudara, perut, lengan dan tungkai.<br />
Dengan bantuan stetoskop, dilakukan pemeriksaan terhadap jantung dan paru-paru; sedangkan pemeriksaan bagian belakang mata dilakukan dengan bantuan oftalmoskop.<br />
Juga dilakukan pemeriksaan panggul dan rektum guna mengetahui ukuran danposisi rahim dan kelaian pada panggul.</p>
<p>Dilakukan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan darah untuk sifilis, hepatitis, gonore, infeksi klamidia dan penyakit menular seksual lainnya.<br />
Pemeriksaan darah juga dilakukan untuk menentukan golongan darah dan antibodi Rh.</p>
<p>Rontgen dada hanya dilakukan jika diketahui wanita hamil tersebut menderita penyakit paru-paru atau jantung.<br />
Jika tidak mendesak, sebaiknya pemeriksaan rontgen dihindari, terutama pada 12 minggu pertama karena janin sangat sensitif terhadap efek radiasi. Jika mendesak, janin harus dilindungi dengan cara menutupi perut bagian bawah dengan bahan yang mengandung timah hitam sehingga rahim terlindungi.</p>
<p>Pemeriksaan penyaringan untuk diabetes harus segera dilakukan setelah kehamilan 12 minggu pada:<br />
- Wanita yang pernah melahirkan bayi yang sangat besar<br />
- Wanita yang pernah mengalami keguguran yang penyebabnya tidak jelas<br />
- Wanita yang memiliki keluarga yang menderita diabetes.<br />
Pada minggu ke 28, semua wanita hamil harus menjalani pemeriksaan penyaringan untuk diabetes.</p>
<p>Pada minggu ke 16-18, dilakukan pemeriksaan kadar alfa-fetoprotein (suatu protein yang dihasilkan oleh janin) di dalam darah ibu.<br />
Jika kadarnya tinggi, kemungkinan janin yang dikandung menderita spina bifida atau terdapat lebih dari 1 janin. Jika kadarnya rendah, kemungkinan terdapat kelainan kromosom pada janin.</p>
<p>Dengan USG, kehamilan bisa diketahui mulai dari 4-5 minggu setelah ovulasi. USG juga digunakan untuk:<br />
- Mengikuti perkembangan kehamilan<br />
- Menentukan tanggal perkiraan persalinan<br />
- Menentukan laju pertumbuhan janin<br />
- Merekam denyut jantung atau pernafasan janin<br />
- Mengetahui kehamilan ganda<br />
- Mengetahui sejumlah kelainan (misalnya plasenta previa)<br />
- Mengetahui kelainan posisi janin<br />
- Memandu jarum pada pengambilan contoh cairan ketuban untuk keperluan pemeriksaan genetik atau kematangan paru-paru (amniosentesis).<br />
Pada kehamilan muda, sebelum menjalani pemeriksaan USG, sebaiknya ibu meminum banyak air karena kandung kemih yang penuh akan mendorong rahim keluar rongga panggul sehingga bisa diperoleh gambaran janin yang lebih jelas.</p>
<p>Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setiap 4 minggu (1 kali/bulan) sampai usia kehamilan mencapai 32 minggu. Kemudian setiap 2 minggu sampai usia kehamilan mencapai 36 minggu dan sesudah 36 minggu, pemeriksaan dilakukan 1 kali/minggu.<br />
Pada setiap pemeriskaan, dilakukan pengukuran berat badan dan tekanan darah, serta ukuran dan bentuk rahim untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan janin.<br />
Air kemih diperiksa untuk mengetahui adanya gula dan protein. Adanya gula menunjukkan diabetes dan protein menunjukkan pre-eklamsi (tekanan darah tinggi, protein dalam air kemih dan penimbunan cairan selama kehamilan).</p>
<p>Jika ibu memiliki darah Rh-negatif, maka dilakukan pemeriksaan antibodi Rh.<br />
Jika darah ibu memiliki Rh-negatif dan darah ayah memiliki Rh-positif, maka janin bisa memiliki Rh-positif. Jika darah janin yang memiliki Rh-positif memasuki peredaran darah ibu yang memiliki Rh-negatif, maka tubuh ibu akan membentuk antibodi Rh yang bisa masuk ke aliran darah janin dan merusak sel darah merah sehingga terjadi jaundice (kuning), yang bisa menyebabkan kerusakan otak atau kematian janin.</p>
<p>Kenaikan berat badan pada saat hamil, pada wanita yang memiliki ukuran rata-rata biasanya berkisar antara 12,5-15 kg (sekitar 1-1,5 kg/bulan).<br />
Kenaikan berat badan yang melebihi 15-17,5 kg menyebabkan penumpukan lemak pada janin dan ibu.<br />
Berat badan yang tidak bertambah merupakan pertanda buruk (terutama jika kenaikan berat badan total kurang dari 5 kg) dan hal ini bisa menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang lambat.</p>
<p>Kadang kenaikan berat badan disebabkan oleh penimbunan cairan akibat jeleknya aliran darah tungkai pada saat wanita hamil berdiri.<br />
Hal ini bisa diatasi dengan cara berbaring miring ke kiri selama 30-45 menit sebanyak 2-3 kali/hari.</p>
<p>Selama kehamilan, kebutuhan kalori harus ditambah sekitar 250 kalori agar tersedia zat gizi yang cukup untuk pertumbuhan janin.<br />
Wanita hamil sebaiknya mengkonsumsi makanan yang gizinya seimbang, termasuk <a title="buah" href="http://radenbeletz.com/vitamin-c-pada-buah-buahan.html">buah</a>-buahan dan sayur-sayuran. Hindari makanan yang terlalu asin atau makanan yang mengandung bahan pengawet.</p>
<p>Seorang wanita hamil tidak boleh minum obat sembarangan.<br />
Selama kehamilan, kebutuhan tubuh akan zat besi meningkat guna memenuhi kebutuhan ibu dan janin. Biasanya diberikan tambahan zat besi. Pemberian zat besi bisa menyebabkan gangguan lambung yang ringan dan sembelit.</p>
<p>Mual dan muntah bisa dikurangi dengan merubah pola <a title="makan" href="http://radenbeletz.com/tips-makan-sehat.html">makan</a>, yaitu:<br />
- Minum dan makan dalam porsi kecil tetapi sering<br />
- Makan sebelum lapar<br />
- Makanan lunak.<br />
Untuk mengatasi morning sickness (mual di pagi hari) sebaiknya memakan 1-2 keping biskuit sebelum beranjak dari tempat tidur.<br />
Jika mual dan muntahnya sangat berat dan menetap sehingga terjadi dehidrasi, penurunan berat badan atau gangguan lainnya, maka biasanya wanita hamil harus menjalani perawatan di <a title="rumah" href="http://radenbeletz.com/bisnis-to-bisnis-indonesia-kerja-dari-rumah.html">rumah</a> sakit untuk semantara waktu dan mendapatkan cairan melalui infus.</p>
<p>Edema (pembengkakan) sering terjadi, terutama pada tungkai. Demikian juga halnya dengan varises pada tungkai dan di daerah sekitar lubang vagina.<br />
Untuk mengurangi pembengkakan tungkai, bisa digunakan penyangga elastis atau berbaring dengan posisi tungkai lebih tinggi.</p>
<p>Wasir bisa diatasi dengan mengkonsumsi obat pelunak tinja atau berendam di air hangat.</p>
<p>Pada saat hamil biasanya jumlah cairan yang keluar dari vagina bertambah, hal ini adalah normal. Trikomoniasis dan kandidiasis merupakan infeksi vagina yang sering ditemukan selama kehamilan dan mudah diobati.<br />
Vaginosis bakterialis (infeksi bakteri pada vagina) bisa menyebabkan kelahiran prematur dan harus diobati secara tuntas.</p>
<p>Wanita hamil bisa tetap melakukan kegiatan sehari-harinya dan berolahraga.<br />
Hubungan seksual selama kehamilan tetap boleh dilakukan, kecuali jika terjadi perdarahan, nyeri atau kebocoran air ketuban.</p>
<p>Setiap wanita hamil sebaiknya mengetahui tanda-tanda awal persalinan.<br />
Tanda yang utama adalah kontraksi perut bagian bawah dengan selang waktu tertentu dan nyeri punggung.<br />
Menjelang akhir kehamilan (setelah 36 minggu), dokter akan melakukan pemeriksaan panggul untuk mencoba memperkirakan saat persalinan.</p>
<p>Sumber : http://medicastore.com/penyakit/586/Kehamilan.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikenugraha.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikenugraha.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikenugraha.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikenugraha.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikenugraha.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikenugraha.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikenugraha.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikenugraha.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikenugraha.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikenugraha.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikenugraha.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikenugraha.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikenugraha.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikenugraha.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikenugraha.wordpress.com&amp;blog=12348203&amp;post=4&amp;subd=ikenugraha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/proses-kehamilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/14a3050dae6f7b72ff7f575c50d95a0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikenugraha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>patologi kebidanan</title>
		<link>http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/patologi-kebidanan/</link>
		<comments>http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/patologi-kebidanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 05:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikenugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[midwifery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/patologi-kebidanan/</guid>
		<description><![CDATA[Pokok Bahasan : Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester III Sub Pokok Bahasan : I. Kehamilan dengan Hipertensi 1.1. Hipertensi Essensial 1.2. Hipertensi karena Kehamilan 1.3. Pre Eklampsia 1.4. Eklampsia II. Perdarahan Antepartum 1.1 Solusio Plasenta 1.2 Plasenta Previa 1.3 Insersio Velamentosa 1.4 Ruptura Sinus Marginalis 1.5 Plasenta Sirkumvalata Referensi : 1. Hanifa, dkk. 1999. Ilmu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikenugraha.wordpress.com&amp;blog=12348203&amp;post=3&amp;subd=ikenugraha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pokok Bahasan : Komplikasi dan Penyulit Kehamilan Trimester III<br />
Sub Pokok  Bahasan : I. Kehamilan dengan Hipertensi<br />
1.1. Hipertensi Essensial<br />
1.2.  Hipertensi karena Kehamilan<br />
1.3. Pre Eklampsia<br />
1.4. Eklampsia<br />
II.  Perdarahan Antepartum<br />
1.1 Solusio Plasenta<br />
1.2 Plasenta Previa<br />
1.3  Insersio Velamentosa<br />
1.4 Ruptura Sinus Marginalis<br />
1.5 Plasenta  Sirkumvalata</p>
<p>Referensi :<br />
1. Hanifa, dkk. 1999. Ilmu Kebidanan.  Jakarta : YBP – SP.<br />
2. Mochtar R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta :  EGC.<br />
3. Saefuddin, A.B. 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan  Maternal dan Neonatal Edisi 1 Cetakan 2. Jakarta : YSB – SP.<br />
4. Saefuddin,  A.B. 2002. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.  Jakarta : YSB – SP.</p>
<p>URAIAN MATERI</p>
<p>I. Kehamilan dengan  Hipertensi<br />
1.1. Hipertensi Essensial<br />
Merupakan penyakit hipertensi yang  mungkin disebabkan oleh faktor heiditer serta dipengaruhi oleh faktor emosi dan  lingkungan. Wanita hamil dengan hipertensi tidak menunjukkan gejala-gejala lain  kecuali hipertensi. Terjadi sebelum umur kehamilan 20 minggu.<br />
Hipertensi  Essensial terbagi 2 yaitu :<br />
a. Hipertensi Essensial ringan (tekanan darah  antara 140/90 mmHg dan 150/95 mmHg)<br />
b. Hipertensi Essensial berat (tekanan  darah &gt; 150/95 mmHg)<br />
Yang paling banyak ditemui adalah Hipertensi  essensial ringan..<br />
Hipertensi jarang berubah menjadi ganas secara mendadak  hingga mencapai sistolik 200 mmHg atau lebih. Gejala-gejala seperti kelainan  jantung, arteriosklerosis, perdarahan otak dan penyakit ginjal baru muncul  setelah dalam waktu lama dan penyakit terus berlanjut.<br />
Kehamilan dengan  Hipertensi essensial akan berlangsung normal sampai aterm. Pada kehaamilan  setelah 30 minggu, 30 % dari wanita hamil akan menunjukkan kenaikan tekanan  darahnya namun tanpa gejala.<br />
Kira-kira 20 % dari wanita hamil akan  menunjukkan tekanan darah yang mencolok, bisa disertai proteinuria dan edema  (pre eklampsia tidak murni) dengan keluhan : sakit kepala, nyeri epigastrium,  oyong, mual, muntah dan gangguan penglihatan (visus).<br />
Hipertensi Essensial  dijumpai pada 1 &#8211; 3 % dari seluruh kehamilan. Hipertensi ini lebih sering  dijumpai pada multipara berusia lanjut dan kira-kira 20 % dari kasus Toksemia  gravidarum.</p>
<p>Penatalaksanaan dalam Kehamilan :<br />
1. Anjurkan untuk  mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur, jika perlu konsultasikan ke  ahli.<br />
2. Anjurkan untuk cukup istirahat, menjauhi emosi dan jangan bekerja  terlalu berat,<br />
3. Cegah penambahan berat badanyang agresif. Anjurkan untuk  diit tinggi protein, rendah hidrat arang, rendah lemak dan rendah garam<br />
4.  Awasi keadaan janin, dengan pemeriksaan seperti biasanya. Dapat juga dilakukan  pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrokardiografi fetal, ukuran  biperietal (USG), penentuan kadar estriol, amnioskopi, pH darah janin dan  lain-lain<br />
5. Obat-obat yang diberikan :<br />
- Anti-hipertensif : Serpasil,  Katapres, Minipres, dll.<br />
- Obat penenang : Fenobarbital, Valium, Frisium  ativan, dll.<br />
6. Pertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan baik yang muda  maupun yang sudah cukup bulan jika ada tanda-tanda hipertensi ganas (Tekanan  darah 200/120 mmHg atau pre-eklampsia berat), apalagi jika janin telah meninggal  intra uterine. Tetapi keputusan untuk pengakhiran kehamilan tersebut sebaiknya  dirundingkan dulu antar disiplin (seperti ahli penyakit dalam) dalam  mempertimbangkan apakah terdapat ancaman bagi jiwa wanita  tersebut.</p>
<p>Prognosis<br />
Ibu : kurang baik, biasanya disebabkan oleh  perdarahan otak, payah jantung, dan uremia.<br />
Janin : kurang baik karena adanya  insufisiensi plasenta, solusio plasenta, janin tumbuh kurang sempurna;  prematuritas dan dismaturitas. Angka kematian bayi 20 %.</p>
<p>1.2. Hipertensi  karena Kehamilan</p>
<p>Yang dimaksud dengan hipertensi karena kehamilan adalh  hipertensi yang terjadi pertama kali sesudah kehamilan 20 minggu, selama  persalinan dan atau dalam 48 jam pasca salin. Lebih sering terjadi pada  primigravida. Patologi telah terjadi akibat implantasi sehingga timbul iskemia  plasenta yang diikuti sindrom inflamasi.<br />
Risiko meningkat pada :<br />
- massa  plasenta besar (pada gemelli, penyakit trofoblast)<br />
- diabetes melitus<br />
-  isoimunisasi rhesus<br />
- faktor herediter<br />
- masalah  vaskuler</p>
<p>Hipertensi karena kehamilan :<br />
- hipertensi tanpa protein atau  edema<br />
- pre-eklampsia ringan (PER)<br />
- pre-eklampsia berat (PEB)<br />
-  Eklampsia<br />
Hipertensi karena kehamilan dan PER sering ditemukan tanpa gejala,  kecuali meningkatnya tekanan darah. Prognosis menjadi lebih buruk dengan  terdapatnya proteinuria. Terdapatnya proteinuria mengubah diagnosis hipertensi  dalam kehamilan menjadi pre-eklampsia.</p>
<p>Penanganan :<br />
Hipertensi karena  kehamilan tanpa proteinuria :<br />
Jika kehamilan &lt; 37 minggu, tangani secara  rawat jalan<br />
- Pantau tekanan darah, proteinuria, kondisi janin setiap  minggu<br />
- Apabila tekanan darah meningkat, tangani sebagai pre-eklampsia<br />
-  Apabila kondisi janin memburuk, atau terjadi pertumbuhan janin terhambat (PJT),  rawat dan pertimbangkan terminasi kehamilan<br />
- Jika tekanan darah stabil janin  dapat dilahirkan secara normal<br />
- Pembatasan kalori, cairan dan diet rendah  garam tidak dapat mencegah hipertensi karena kehamilan, malah dapat membahayakan  janin.<br />
Manfaat aspirin, kalsium dan obat-obat pencegah hipertensi dalam  kehamilan belum terbukti.</p>
<p>1.3. Pre Eklampsia</p>
<p>Merupakan akibat  langsung dari kehamilan (murni), sebagai kumpulan gejala yang timbul pada ibu  hamil, bersalin, dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi,  proteinuria dan edema.<br />
Pada pre-eklampsia terjadi spasme pembuluh darah  duertai dengan retensi garam dan air.<br />
Klasifikasi :<br />
Pre-eklampsia dibagi  menjadi 2 golongan yaitu :<br />
1. Pre-Eklampsia Ringan (PER)<br />
(a) Tekanan darah  140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring telentang, atau  kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih; atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau  lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak  periksa 1 jam, sebaiknya 6 jam,<br />
(b) Edema umum, kaki, jari tangan dan muka;  atau kenaikan berat badan 1 kg atau lebih perminggu,<br />
(c) Proteinuria  kuantitatif 0,3 gr atau lebih per liter; kualitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter  atau midstream<br />
2. Pre-Eklampsia Berat (PEB)<br />
(a) Tekanan darah 160/110  mmHg atau lebih<br />
(b) Proteinuria 5 gr atau lebih per liter<br />
(c) Oligouria  yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam<br />
(d) Adanya gangguan serebral,  gangguan visus dan rasa nyeri di epigastrium<br />
(e) Terdapat edema paru dan  sianosis<br />
Diagnosis<br />
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :<br />
(1) Gambaran  klinik : pertambahan berat badan yang berlebihan, edema, hipertensi dan timbul  proteinuria.<br />
Gejala subyektif : sakit kepala di daerah frontal, nyeri  epigastrium ; gangguan visus : penglihatan kabur, skotoma, diplopia ; mual dan  muntah.<br />
Gangguan serebral lainnya : oyong, refleks meningkat dan tidak  tenang.<br />
(2) Pemeriksaan : tekanan darah tinggi, refleks meningkat, dan  proteinuria pada pemeriksaan  laboratorium</p>
<p>Penatalaksanaan<br />
Pre-Eklampsia Ringan (PER)<br />
Jika  kehamilan &lt; 37 minggu, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, lakukan penilaian  2 kali seminggu secara rawat jalan :<br />
- Pantau tekanan darah, proteinuria,  refleks dan kondidi janin<br />
- Lebih banyak istirahat<br />
- Diet biasa<br />
- Tidak  perlu diberi obat-obatan<br />
- Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat dirumah  sakit :<br />
- Diet biasa,<br />
- Pantau tekanan darah 2 x sehari, proteinuria 1 x  sehari,<br />
- Tidak perlu obat-obatan,<br />
- Tidak perlu diuretik, kecuali jika  terdapat edema paru, dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut,<br />
- Jika  tekanan diastolik turun sampai normal, pasien dapat dipulangkan :<br />
a.  Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda pre-eklampsia berat<br />
b.  Kontrol 2 x seminggu<br />
c. Jika tekanan diastolik naik lagi maka rawat  kembali<br />
- Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan maka tetap dirawat<br />
- Jika  terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi  kehamilan<br />
- Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai pre-eklampsia berat</p>
<p>Jika kehamilan &gt; 37 minggu, pertimbangkan terminasi :<br />
- Jika  serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500 ml dekstrose IV  10 tetes/menit atau dengan prostaglandin<br />
- Jika serviks belum matang, berikan  prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley atau terminasi dengan seksio  sesarea.</p>
<p>1.4. Eklampsia<br />
Eklampsia dalam bahasa Yunani berarti  “Halilintar” karena serangan kejang-kejang timbul tiba-tiba seperti petir. Pada  ibu penderita PEB, risiko menjadi eklampsia sangat besar dan dapat diikuti  dengan koma.<br />
Gejala gejala Eklampsia<br />
Biasanya didahului oleh gejala dan  tanda pre-eklampsia berat. Serangan eklampsia dibagi dalam 4 tingakat :<br />
(1)  Stadium Invasi (awal atau aurora)<br />
Mata terpaku dan terbuka tanpa melihat,  kelopak mata dan tangan bergetar, kepala dipalingkan ke kanan atau kiri. Stadium  ini berlangsung kira-kira 30 detik.<br />
(2) Stadium Kejang Tonik<br />
Seluruh otot  badan jadi kaku, wajah kaku, tangan menggemgam dan kaki membengkok ke dalam;  pernafasan berhenti, muka mulai kelihatan sianosis, lidah dapat tergigit.  Stadium ini berlangsung kira-kira 20 &#8211; 30 detik.<br />
(3) Stadium Kejang  Klonik<br />
Semua otot berkontraksi berulang-ulang dalam waktu yang cepat. Mulut  terbuka dan menutup, keluar ludah berbusa dan lidah dapat tergigit. Mata  melotot, muka kelihatan kongesti dan sianosis. Setelah berlangsung selama 1 &#8211; 2  menit kejang klonik berhenti dan penderita tidak sadar, menarik nafas seperti  mendengkur.<br />
(4) Stadium Koma<br />
Lamanya ketidajsadaran (koma) ini berlangsung  selama beberapa menit sampai berjam-jam. Kadang-kadang antara kesadaran timbul  serangan baru dan akhirnya ibu tetap dalam keadaan koma. Selama serangan tekanan  darah meninggi, nadi cepat dan suhu naik sampai 40 0C.</p>
<p>Komplikasi<br />
-  Lidah tergigit<br />
- Terjadi perlukan dan fraktur<br />
- Gangguan pernafasan<br />
-  Perdarahan otak<br />
- Solusio plasenta<br />
- Merangsang  persalinan</p>
<p>Prognosis<br />
Ibu : angka kematian sekitar 9,8 – 25,5 % untuk  negara berkembang.<br />
Biasanya disebabkan oleh : perdarahan otak, kegagalan  jantung paru, kegagalan ginjal, infeksi, kegagalan hepar, dll.<br />
Bayi : angka  kematian di negara berkembang berkisar antara 42,2 – 50 %. Terutama dikarenakan  hipoksia intrauterin dan prematuritas.</p>
<p>Kriteria Eden<br />
Adalah kriteria  untuk menentukan prognosis eklampsia yang terdiri dari :<br />
(1) Koma yang lama  (prolonged coma),<br />
(2) Frekuensi nadi di atas 120 kali permenit,<br />
(3) Suhu  103 0F atau 39,4 0C atau lebih,<br />
(4) Tekanan darah lebih dari 200 mmHg,<br />
(5)  Konvulsi lebih dari 10 kali,<br />
(6) Proteinuria 10 gr atau lebih,<br />
(7) Tidak  ada edema, edema menghilang.</p>
<p>Eklampsia ringan jika tidak ada atau hanya 1  kriteria yang timbul.<br />
Eklampsia berat dan prognosis lebih jelek jika  dijumpai 2 atau lebih kriteria.</p>
<p>Penatalaksanaan<br />
Penatalaksanaan  eklampsia sama dengan PEB. Dengan tujuan utama menghentikan berulangnya serangan  konvulsi dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan cara yang aman setelah  keadaan ibu mengizinkan.<br />
Penanganan konservatif tidak dianjurkan karena  gejala dn tanda eklampsia seperti hiperrefleksia dan gangguan penglihatanan  sering tidak sahih.</p>
<p>Penanganan Kejang<br />
- Beri obat antikonvulsan (lihat  pada keterangan)<br />
- Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas,  sedotan, masker dan balon, oksigen)<br />
- Beri oksigen 4 &#8211; 6 liter per menit<br />
-  Lindungi pasien dari kemungkinan trauma, tetapi jangan didikat terlalu  keras<br />
- Baringkan pasien pada sisi kiri untuk mengurangi risiko aspirasi<br />
-  Setelah kejang, aspirasi mulut dan tenggorokan jika perlu.</p>
<p>Penanganan  Umum<br />
- Jika tekanan diastolik tetap lebih dari 110 mmHg, berikan obat  antihipertensi (lihat pada keterangan) sampai tekanan diastolik di antara 90 –  100 mmHg<br />
- Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar (16 gauge atau lebih  besar)<br />
- Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan<br />
-  Kateterisasi urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria<br />
- Jika  jumlah urine kurang dari 30 ml per jam :<br />
a. Hentikan Magnesium sulfat (MgSO4)  dan berikan cairan I.V. (NaCl 0.9 % atau Ringer Laktat) pada kecepatan 1 liter  per jam<br />
b. Pantau kemungkinan edema paru<br />
- Jangan tinggalkan pasien  sendirian. Kejang disertai aspirasi muntah dapat mengakibatkan kematian ibu dan  janin<br />
- Observasi tanda-tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap  jam<br />
- Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru<br />
- Krepitasi  merupakan tanda edema paru. Hentikan pemberian cairan I.V. dan berikan diuretik  misalnya furosemid 40 mg I.V. sekali saja jika ada edema paru<br />
- Nilai  pembekuan darah dengan uji pembekuan sederhana (bedside clotting test). Jika  pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati.</p>
<p>Keterangan :<br />
Antikonvulsan<br />
Magnesium sulfat (MgSO4) merupakan  obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada PEB dan Eklampsia.<br />
Cara Pemberian :<br />
1. Dosis Awal<br />
- MgSO4 4 g I.V. sebagai larutan 20 %  selama 5 menit<br />
- Diikuti dengan MgSO4 (50 %) 5 g I.M. dengan 1 ml lignokain 2  % (dalam semprit yang sama)<br />
- Pasien akan merasa agak panas sewaktu pemberian  MgSO4.<br />
2. Dosis Pemeliharaan<br />
- MgSO4 (50 %) 5 g + lignokain 2 % 1 ml I.M.  setiap 4 jam<br />
- Lanjutkan sampai 24 jam pasca persalinan atau kejang  terakhir<br />
3. Sebelum pemberian MgSO4 periksa :<br />
- Frekuensi pernafasan  minimal 16/menit<br />
- Refleks patella (+)<br />
- Urine minimal 30 ml/jam dalam 4  jam terakhir<br />
4. Stop pemberian MgSO4 jika :<br />
- Frekuensi pernafasan &lt; 16  /menit<br />
- Refleks patella (-)<br />
- Urin &lt; 30 ml/jam<br />
5. Siapkan antidotum  :<br />
- Jika terjadi henti nafas :<br />
- Bantu dengan ventilator<br />
- Beri kalsium  glukonat 2 g (20 ml dalam larutan 10 %) I.V. perlahan-lahan sampai pernafasan  mulai lagi.</p>
<p>Jika MgSO4 tidak tersedia, dapat diberikan diazepam, dengan  risiko terjadinya depresi pernafasan neonatal. Dosis tunggal diazepam jarang  menimbulkan depresi pernafasan neonatal. Pemberian terus-menerus secara  intravena meningkatkan risiko depresi pernafasan pada bayi yang sudah mengalami  iskemia uteroplasenta dan persalinan prematur. Pengaruh diazepam dapat  berlangsung beberapa hari.</p>
<p>Cara pemberiannya :<br />
Pemberian Intravena  :<br />
1. Dosis awal<br />
- Diazepam 10 mg I.V. pelan-pelan selama 2 menit<br />
- Jika  kejang berulang, ulangi dosis awal<br />
2. Dosis pemeliharaan<br />
- Diazepam 40 mg  dalam 500 ml larutan Ringer Laktat per infus<br />
- Depresi pernafasan ibu mungkin  akan terjadi jika dosis &gt; 30 mg/jam<br />
- Jangan berikan &gt; 100 mg/24  jam</p>
<p>Pemberian melalui Rektum :<br />
- Jika pemberian I.V. tidak  mungkin, diazepam dapat diberikan per rektal, dengan dosis awal 20 mg dalam  samprit 10 ml<br />
- Jika masih terjadi kejang, beri tambahan 10 mg/jam<br />
- Dapat  pula diberikan melalui kateter urin yang dimasukan ke dalam  rektum.</p>
<p>Catatan :<br />
Diazepam hanya dipakai jika MgSO4 tidak  tersedia.</p>
<p>Anti Hipertensi<br />
Jika tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih,  berikan obat antihipertensi.<br />
Tujuannya adalah untuk mempertahankan tekanan  diastolik diantara 90 – 100 mmHg dan mencegah perdarahan serebral.<br />
Obat  pilihan adalah hidralazin.<br />
(a) Berikan hidralazin 5 mg I.V. pelan-pelan stiap  5 menit sampai tekanan darah turun. Ulang setiap jam jika perlu atau berikan  hidralazin 12,5 mg I.M. setiap 2 jam<br />
(b) Jika hidralazin tidak tersedia,  berikan :<br />
- labetolol 10 mg I.V. :<br />
i. Jika respons tidak baik (tekanan  diastolik tetap &gt; 110 mmHg), berikan labetolol 20 mg I.V.<br />
ii. Naikkan  dosis sampai 40 mg dan 80 mg jika respons tidak baik sesudah 10 menit<br />
-  Berikan nifedipin 5 mg sublingual. Jika tidak baik setelah 10 menit, beri  tambahan 5 mg sublingual<br />
- Metildopa 3 x 250 – 500 mg/hari</p>
<p>II.  Perdarahan Antepartum</p>
<p>Pendarahan antepartum adalah perdarahan yang  terjadi setelah kehamilan 28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya  daripada perdarahan kehamilan sebelum 28 minggu.<br />
Klasifikasi<br />
Perdarahan  antepartum dapat berasal dari :<br />
1. Kelainan plasenta meliputi :<br />
(a)  Plasenta previa<br />
(b) Solusio plasenta (abruptio plasenta)<br />
(c) Pendarahan  antepartum yang belum jelas sumbernya seperti :<br />
- Insersio Velamentosa<br />
-  Ruptura Sinus Marginalis<br />
- Plasenta Sirkumvalata<br />
2. Bukan dari kelainan  plasenta, biasnya tidak begitu berbahaya, misalnya kelainan serviks dan vagina  (erosio, polip, varises yang pecah) dan trauma.</p>
<p>Tabel 1.  Diagnosis Perdarahan Antepartum<br />
Gejala dan tanda utama Faktor predisposisi  Penyulit lain Diagnosis<br />
- Perdarahan tanpa nyeri, usia gestasi &gt;22  minggu<br />
- Darah segar atau kehitaman dengan bekuan<br />
- Perdarahan dapat  terjadi setelah miksi atau defekasi, aktivitas fisik, kontraksi Braxton Hicks  atau koitus Grande Multipara &#8211; Syok<br />
- Perdarahan setelah koitus<br />
- Tidak  ada kontraksi uterus<br />
- Bagian terendah janin tidak masuk pintu atas  panggul<br />
- Kondisi janin normal atau terjadi gawat janin Plasenta Previa<br />
-  Perdarahan dengan nyeri intermiten atau menetap<br />
- Warna darah kehitaman dan  cair, tetapi mungkin ada bekuan jika solusio relatif baru<br />
- Jika ostium  terbuka, terjadi perdarahan berwarna merah segar &#8211; Hipertensi<br />
- Versi  luar<br />
- Trauma abdomen<br />
- Polihiramnion<br />
- Gemelli<br />
- Defisiensi gizi &#8211;  Syok yang tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar (tipe tersembunyi)<br />
-  Anemia berat<br />
- Melemah atau hilangnya gerak janin<br />
- Gawat janin atau  hilangnya denyut jantung janin<br />
- Uterus tegang dan nyeri Solusio  Plasenta<br />
- Perdarahan intraabdominal dan atau vaginal<br />
- Nyeri hebat  sebelum perdarahan dan syok, yang kemudian hilang setelah terjadi reganagan  hebat pada perut bawah (kondisi ini tidak khas) &#8211; Riwayat seksio sesarea<br />
-  Partus lama atau kasep<br />
- Disproporsi kepala / fetopelvik<br />
- Kelainan  letak/presentasi<br />
- Persalinan traumatik &#8211; Syok atau takhikardia<br />
- Adanya  cairan bebas intraadominal<br />
- Hilangnya gerak dan denyut jantung janin<br />
-  Bentuk uterus abnormal atau konturnya tidak jelas<br />
- Nyeri raba/tekan dinding  perut dan bagian-bagian janin mudah dipalpasi Ruptura uteri<br />
- Perdarahan  berwarna merah segar<br />
- Uji pembekuan darah tidak menunjukkan adanya bekuan  darah setelah 7 menit<br />
- Rendahnya faktor pembekuan darah, fibrinogen,  trombosit, fragmentasi sel darah merah &#8211; Solusio plasenta<br />
- Janin mati dalam  rahim<br />
- Eklampsia<br />
- Emboli air ketuban &#8211; Perdarahan gusi<br />
- Gambaran  memar bawah kulit<br />
- Perdarahan dari tempat suntikan dan jarum infus Gangguan  pembekuan darah</p>
<p>1.1. Plasenta Previa<br />
Plasenta previa adalah keadaan  dimana plasenta berimplantasi pada tempat abnormal, yaitu pada segmen bawah  rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan laahir (ostium  uteri internal).<br />
Normalnya, plasenta berimplantasi di bagian uterus, yaitu  pada bagian dalam belakang (60 %) depan (40 %).<br />
Klasifikasi :<br />
Belum ada  kesepakatan dari para ahli, terutama mengenai berapa pembukaan jalan lahir.  Dikarenakan pembagian tidak didasrkan pada keadaan anatomi, melainkan pada  keadaan fisiologi yang dapat berubah-ubah, maka klasifikasi akan berubah setiap  waktu. Misalnya : pada pembukaan yang masih kecil, seluruh pembukaan ditutupi  jaringan plasenta (plasenta previa totalis), namun pada pembukaan yang lebih  besar, keadaan ini akan menjadi plasenta previa lateralis.<br />
Klasifikasinya  adalah sebagai berikut :<br />
(1) Plasenta letak rendah (Low-lying plasenta) :  tepi plasenta berada 3 – 4 cm<br />
(2) Plasenta Previa parsial : sebagian ostium  ditutupi plasenta<br />
(3) Plasenta Previa Totalis : seluruh ostium ditutupi  plasenta</p>
<p>Gambar 1.  Implantasi Plasenta pada atau di dekat serviks</p>
<p>Faktor-faktor  Etiologi<br />
1. Umur dan paritas<br />
- Pada primigravida, umur di atas 35 tahun  lebih sering daripada umur di bawah 25 tahun<br />
- Lebih sering pada paritas  tinggi dari paritas rendah<br />
- Di Indonesia menurut Toha, plasenta previa  banyak dijumpai pada umur muda dan paritas kecil, hal ini disebabkan banyak  wanita Indonesia menikah pada usia muda di mana endometrium masih belum matang  (inferior)<br />
2. Hipoplasia endometrium : bila kawin dan hamil pada umur muda<br />
3. Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi,  kuretase dan manual plasenta<br />
4. Korpus luteum bereaksi lambat, di mana  endometrium belum siap menerima hasil konsepsi<br />
5. Tumor-tumor, seperti mioma  uteri, polip endometrium<br />
6. Kadang-kadang pada malnutrisi</p>
<p>Diagnosis<br />
Dapat ditegakkan dengan adanya beberapa gejala klinis :<br />
1. Anamnesis<br />
-  Gejala pertama yang membawa si sakit ke dokter atau rumah sakit adalah  perdarahan pada kehamilan setyelah 28 minggu atau pada kehamilan lanjut  (trimester III)<br />
- Sifat perdarahannya tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri  (painless) dan berulang (recurrent)<br />
Perdarahan timbul sekonyong-konyong tanpa  sebab apa pun. Kadang-kadang perdarahan terjadi sewaktu bangun tidur, pagi hari  tanpa disadari tempat tidur sudah penuh darah. Perdarahan cenderung berulang  dengan volume yang lebih banyak dari sebelumnya.<br />
Sebab dari perdarahan ialah  karena ada plasenta dan pembuluh darah yang robek karena (a) terbentuknya segmen  bawah rahim, (b) terbukanya ostium atau oleh manipulasi intravaginal atau  rektal. Sedikit atau banyaknya perdarahan tergantung pada besar dan banyaknya  pembuluh darah yang robek dan plasenta yang lepas. Biasanya wanita mengatakan  banyaknya perdarahan dalam berapa kain sarung, berapa gelas dan adanya  darah-darah beku (stolsel).<br />
2. Inspeksi<br />
- Dapat dilihat perdarahan yang  keluar pervaginam: banyak, sedikit, darah beku dan sebagainya.<br />
- Kalau telah  berdarah banyak maka ibu kelihatan pucat/anemis<br />
3. Palpasi abdomen<br />
- Janin  sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih rendah<br />
- Sering dijumpai  kesalahan letak janin<br />
- Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak  kepala, biasanya kepala masih goyang atau terapung (floating) atau mengolak di  atas pintu atau panggul<br />
- Bila cukup pengalaman (ahli), dapat dirasakan suatu  bantalan pada segmen bawah rahim, terutama pada ibu yang kurus.<br />
4.  Pemeriksaan inspekulo<br />
Dengan memakai spekulum secara hati-hati dilihat  darimana asal perdarahan, apakah dari dalam uterus atau dari kelainan serviks,  vagina, varises pecah dan lain-lain.</p>
<p>Penanganan :<br />
- Perbaiki  kekurangan cairan atau darah dengan memberikan infus cairan I.V. (NaCl 0,9 %  atau Ringer Laktat)<br />
- Lakukan penilaian jumlah perdarahan :<br />
(a) Jika  perdarahan banyak dan berlangsung terus, persiapkan seksio sesarea tanpa  memperhitungkan usia kehamilan/prematuritas<br />
(b) Jika perdarahan sedikit dan  berhenti dan fetus hidup tetapi prematur pertimbangkan terapi ekspektatif sampai  persalinan atau terjadi perdarahan banyak</p>
<p>Terapi Ekspektatif<br />
Tujuan  supaya janin tidak terlahir prematur dan upaya diagnosis dilakukan secara  noninvasif.<br />
- Syarat Terapi Ekspektatif :<br />
(a) Kehamilan preterm dengan  perdarahan sedikit yang kemudian berhenti<br />
(b) Belum ada tanda inpartu<br />
(c)  Keadaan umum ibu cukup baik (kadar Hemoglobin dalam batas normal)<br />
(d) Janin  masih hidup<br />
- Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotika  profilaksis<br />
- Pemeriksaan USG untuk menentukan implantasi plasenta, usia  kehamilan, profil biofisik, letak, dan presentasi janin<br />
- Perbaiki anemia  dengan pemberian sulfas ferosus atau Ferous fumarat per oral 60 mg selama 1  bulan<br />
- Pastikan tersedianya sarana untuk melakukan transfusi<br />
- Jika  perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama, pasien dapat  dirawat jalan (kecuali rumah pasien di luar kota atau diperlukan waktu &gt; 2  jam untuk mencapai rumah sakit) dengan pesan segera kembali ke rumah sakit jika  terjadi perdarahan<br />
- Jika perdarahan berulang pertimbangkan manfaat dan  risiko ibu dan janin untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dibandingkan  dengan terminasi kehamilan</p>
<p>Konfirmasi  Diagnosis<br />
Ultrasonografi<br />
- Pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk  menentukan implantasi plasenta dan jarak tepi plasenta terhadap ostium. Jika  diagnosis plasenta previa telah ditegakkan dan janin matur, rencanakan  persalinan<br />
- Jika pemeriksaan USG tidak memungkinkan dan kehamilan kurang  dari 37 minggu lakukan penanganan plasenta previa sampai kehamilan 37  minggu.</p>
<p>Pemeriksaan dalam di Meja Operasi<br />
(a) Jika USG tidak tersedia  dan usia kehamilan ≥ 37 minggu, diagnosis definitif plasenta previa dilakukan  dengan melakukan PDMO (Pemeriksaan Dalam di Meja Operasi) dengan cara melakukan  perabaan plasenta secara langsung melalui pembukaan serviks. Untuk tindakan ini  diperlukan :<br />
- infus terpasang dan tersedia darah<br />
- dilakukan di ruang  operasi dengan tim operasi yang telah siap<br />
- periksa servikas dengan  menggunakan spekulum yang telah didisinfeksi tingkat tinggi<br />
(b) Jika telah  terjadi pembukaan serviks dan tampak jaringan plasenta, diagnosis pasti plasenta  previa, rencanakan terminasi persalinan<br />
(c) Jika belum ada pembukaan serviks  dan :<br />
- Jika teraba jaringan lunak pada serviks, diagnosis sebagai plasenta  previa dan rencanakan terminasi persalinan<br />
- Jika teraba selapu dan bagian  janin di daerah tengah dan tepi, singkirkan diagnosis plasenta previa dan  lanjutkan persalinan dengan induksi.<br />
(d) Jika masih terdapat keraguan  diagnosis, lakukan pemeriksaan digital dengan hati-hati :<br />
- teraba jaringan  lunak pada forniks, diagnosis sebagai plasenta previa dan rencanakan terminasi  persalinan<br />
- teraba kepala janin yang keras, singkirkan diagnosis plasenta  previa dan lanjutkan persalinan dengan induksi.<br />
Catatan :<br />
Tindakan ini  tidak dianjurkan pada kondisi perdarahan banyak dan ibu dengan anemia  berat.</p>
<p>Terapi Aktif<br />
Rencanakan terminasi kehamilan jika :<br />
- Janun  matur<br />
- Janin mati atau menderita anomali atau keadaan yang mengurangi  kelangsungan hidupnya (misalnya anensefali)<br />
- Pada perdarahan aktif dan  banyak, segera dilakukan terapi aktif tanpa memandang maturitas  janin</p>
<p>1.2. Solusio Plasenta<br />
Istilah lain dari Solusio plasenta adalah  ablatio plasentae, abruptio plasentae, accidental haemorrhage, dan prematur  separation of the normally implanted placenta.<br />
Solusio plasenta adalah suatu  keadaan dimana plasenta yang letaknya normal terlepas dari perlekatannya sebelum  lahir. Biasanya dihitung sejak kehamilan 28 minggu.<br />
Klasifikasi<br />
Menurut  derajat lepasnya plasenta :<br />
(1) Solusio plasenta parsialis<br />
Bila hanya  sebagian saja plasenta terlepas dari tempat perlekatannya.<br />
(2) Solusio  plasenta totalis (komplit)<br />
Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat  perlekatannya<br />
(3) Kadang-kadang plasenta ini turun ke bawah dan dapat teraba  pada pemeriksaan dalam, disebut prolapsus plasenta.<br />
Ada yang membagi menurut  tingkat gejala klinik menjadi ringan, sedang dan berat.<br />
Ada yang membagi  menurut penyebabnya :<br />
(1) Non Toksik<br />
Biasanya ringan dan terjadinya  sewaktu partus<br />
(2) Toksik<br />
Lebih parah, terjadinya biasanya pada kehamilan  trimester ketiga, dan disertai kelainan-kelainan  organik.</p>
<p>Etiologi<br />
Sebab yang jelas terjadinya Solusio plasenta belum  diketahui, hanya para ahli mengemukakan teori :<br />
Akibat turunnya tekanan darah  secara tiba-tiba oleh spasme dari arteri yang menuju ke ruangan interviler, maka  terjadilah anoksemia dari jaringan bagian distalnya. Sebelum ini menjadi  nekrotis, spasme hilang dan darah kembali mengalir ke dalam intervili, namun  pembuluh darah distal tadi sudah demikian rapuhnya serta mudah pecah, sehingga  terjadi hematoma yang lambat laun melepaskan plasenta dari rahim. Darah yang  berkumpul di belakang plasenta disebut hematoma  retroplasenter.</p>
<p>Faktor-faktor yang mempengaruhi antara lain :<br />
(1)  Faktor vaskuler (80 – 90 %) yaitu toksemia gravidarum, glomerulonefritis  kronika, dan hipertensi esensial.<br />
Karena desakan darah tinggi, maka pembuluh  darah mudah pecah, kemudian terjadi haematoma retroplasenter dan plasenta  sebagian terlepas.<br />
(2) Faktor trauma:<br />
- Pengecilan yang tiba-tiba dari  uterus pada hidramnion dan gemeli<br />
- Tarikan pada tali pusat yang pendek  akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar atau pertolongan  persalinan.<br />
(3) Faktor paritas<br />
Lebih banyak dijumpai pada multi daripada  primi. Holmer mencatat bahwa dari 83 kasus solusio plasenta 45 multi dan 18  primi.<br />
(4) Pengaruh lain seperti anemia, malnutrisi, tekanan uterus pada vena  cava inferior dll.<br />
(5) Trauma langsung seperti jatuh, kena tendang,  dll.</p>
<p>Frekuensi<br />
Makin lanjut umur, makin besar kemungkinan terjadinya  Solusio plasenta, karena pada umur lanjut kemungkinan mendapat arteriosklerosis  lebih besar.</p>
<p>Diagnosis dan Gejala Klinis<br />
Solusio plasenta yang  ringan, pada umumnya tidak menunukkan gejala klinis yang jelas, perdarahan  antepartum hanya sedikit dalam hal ini diagnosis baru kita tegakkan setelah anak  lahir. Pada plasenta kita dapati koagulum-koagulum darah dan krater.<br />
Pada  keadaan yang agak berat kita dapat membuat diagnosis berdasarkan :<br />
(1)  Anamnesis<br />
- Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut; kadang-kadang pasien bisa  melokalisir tempat mana yang paling sakit, di mana plasenta terlepas.<br />
-  Perdarahan pervaginam yang sifatnya bisa hebat dan sekonyong-konyong  (non-reccurent) terdiri dari darah segar dan bekuan-bekuan darah<br />
- Pergerakan  anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti (anak tidak  bergerak lagi)<br />
- Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, pandangan  berkunang-kunang, ibu kelihatan anemis, tidak sesuai dengan banyaknya darah yang  keluar<br />
- Kadang-kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang  lain<br />
(1) Inspeksi<br />
- Pasien gelisah, sering mengerang karena  kesakitan<br />
- Pucat, sianosis, keringat dingin<br />
- Kelihatan darah keluar  pervaginam<br />
(3) Palpasi<br />
- Fundus uteri tambah naik karena terbentuknya  retroplasenter hematoma; uterus tidak sesuai dengan tuanya kehamilan<br />
- Uterus  teraba tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden  uterus) baik waktu his maupun di luar his<br />
- Nyeri tekan terutama di tempat  plasenta tadi terlepas<br />
- Bagian-bagian janin susah dikenali, karena perut  (uterus tegang)<br />
(4) Auskultasi<br />
Sulit, karena uterus tegang. Bila denyut  jantung janin terdengar biasanya di atas 140, kemudian turun di bawah 100 dan  akhirnya hilag bila plasenta yang terlepas lebih dari sepertiga.<br />
(5)  Pemeriksaan dalam<br />
- Serviks bisa telah terbuka atau masih tertutup<br />
- Kalau  sudah terbuka maka ketuban dapat teraba menonjol dan tegang, baik sewaktu his  maupun di luar his<br />
- Kalau ketuban sudah pecah dan plasenta sudah terlepas  seluruhnya. Plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan,  disebut prolapsus plasenta, ini sering dikacaukan denagn plasenta previa.<br />
(6) Pemeriksaan umum<br />
- Tensi semula mungkin tinggi karena pasien  sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi lambat laun turun dan pasien  jatuh syok<br />
- Nadi cepat, kecil dan filiformis<br />
(7) Pemeriksaan  laboratorium<br />
- Urin<br />
Albumin (+); pada pemeriksaan sedimen terdapat  silinder dan lekosit.<br />
- Darah<br />
Hb menurun (anemi), periksa golongan darah ,  kalau bisa cross match test. Karena pada Solusio plasenta sering terjadi  kelainan pembekuan darah a/hipofibrinogenemia, maka diperiksakan pula COT (Clot  Observation Test) tiap 1 jam, tes kualitatif fibrinogen (fiberindex) dan tes  kuantitatif fibrinogen (kadar normalnya 150 mg %).<br />
(8) Pemeriksaan  plasenta<br />
Sesudah bayi dan plasenta lahir, kita periksa plasentanya. Biasanya  tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (krater) dan terdapat  koagulum atau darah beku di belakang plasenta, yang disebut hematoma  retroplasenter.</p>
<p>Gambar 2.  Jenis Solusio plasenta (a) Solusio plasenta parsialis (b) Solusio plasenta  totalis</p>
<p>Skema :<br />
No Klinis Solusio Plasenta Plasenta Previa Ruptura  Uteri<br />
1 Terjadinya Sewaktu hamil dan in-partu Sewaktu hamil In partu<br />
2  Cara mulainya Tiba-tiba Perlahan-lahan Dimulai RUM<br />
3 Perdarahan  Non-reccurent Reccurent Bergantung pada pembuluh darah yang pecah<br />
4 Warna  darah Darah tua + darah beku Darah baru Darah baru<br />
5 Anemia Tak sebanding  dengan darah yang keluar Sesuai dengan darah yang keluar Perdarahan keluar dan  di dalam<br />
6 Toksemia gravidarum Bisa ada (-) (-)<br />
7 Nyeri perut Ada Tidak  ada + di SBR<br />
8 Palpasi Uteri in-bois bagian-bagian anak sulit diraba Biasa  dan floating Defans muskuler, meteoritis<br />
9 His Kuat Biasa Hilang<br />
10 DJJ  (-) (+) (-)<br />
11 Periksa dalam Ketuban tegang, menonjol Jar. Plasenta  Robekan<br />
12 Plasenta Tipis kreater cekung Ketuban robek pada pinggir  biasa<br />
Perdarahan pada Solusio Plasenta<br />
Perdarahan pada solusio plasenta  bisa mengakibatkan darah hanya ada di belakang plasenta (hematoma  retroplasenter); darah tinggal saja di dalam rahim (internal haemorrhage =  concealed haemorrhage); masuk merembes ke dalam amnion; atau keluar melaului  vagina (antara selaput ketuban degan dinding uterus) yang disebut external  haemorrhage (revealed haemorrhage).<br />
Jika solusio plasenta lebih berat dapat  terjadi couvelair uterus (apopleksi uteroplasenter). Dalam hal ini darah  merembes memasuki otot-otot rahim sampai ke bawah serosa, bahkan kadang-kadang  sampai ke ligamen latum dan melaului tuba masuk ke rongga panggul. Uterus  kelihatan lebih besar, dinding uterus penuh dengan bintik-bintik merah hematom  dari kecil sampai besar.<br />
Ada 2 bentuk Couvelair Uterus yaitu :<br />
(1)  Couvelair uterus dengan kontraksi uterus baik<br />
(2) Couvelair uterus dengan  kontraksi uterus jelek, sehingga terjadi perdarahan postpartum.<br />
Couvelair  uterus terjadi karena berbagai teori, antara lain vasospasme,  perubahan-perubahan toksik, adanya hematoma retroplasenter yang hebat, uterus  yang terlalu regang atau a/hipofibrinogenemia.<br />
Hal-hal tersebut menyebabkan  peembuluh darah dinding uterus pecah.</p>
<p>Diagnosis Banding<br />
- Solusio  plasenta<br />
- Plasenta previa<br />
- Ruptura uteri</p>
<p>Komplikasi<br />
(a)  Langsung (immediate)<br />
- Perdarahan<br />
- Infeksi<br />
- Emboli dan syok  obstetrik<br />
(a) Komlikasi tidak langsung (delayed)<br />
- Couvelair uterus,  sehingga kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan postpartum<br />
-  A/hipo-fibrinogenemia dengan perdarahan postpartum<br />
- Nekrosis korteks  renalis, menyebabkan anuria dan uremia<br />
- Kerusakan-kerusakan organ seperti  hati, hipofisis dan lain-lain</p>
<p>Prognosis<br />
(1) Terhadap  ibu<br />
Mortalitas menurut kepustakaan 5 – 10 %, sedangkan R.S Pirngadi Medan  dilaporkan 6,7 %.<br />
Hal ini dikarenakan adanya perdarahan sebelum dan sesudah  partus, toksemia gravidarum, kerusakan organ terutama nekrosis korteks ginjal  dan infeksi<br />
(2) Terhadap anak<br />
Mortalitas anak tinggi, menurut kepustakaan  70 – 80 %, Sedangkan di R.S. Pirngadi Medan dilaporkan mortalitas anak 77,7  %.<br />
Hal ini tergantung pada derajat pelepasan dari plasenta, bila yang  terlepas lebih dari 1/3 maka kemungkinan kematian anak 100 %. Selain itu juga  tergantung dari prematuritas dan tindakan persalinan.<br />
(3) Terhadap kehamilan  berikutnya<br />
Biasanya bila telah menderita penyakit vaskuler dengan solusio  plasenta, maka pada hamil berikutnya sering terjadi solusio plasenta yang lebih  hebat dengan partus prematurus/immaturus.</p>
<p>Terapi<br />
- Lakukan uji  pembekuan darah. Kegagalan terbentuknya bekuan darah setelah 7 menit atau  terbentuknya bekuan darah lunak yang mudah terpecah menunjukkan adanya  koagulopati.<br />
- Transfusi darah segar<br />
- Jika terjadi perdarahan hebat  (nyata atau tersembunyi), lakukan persalinan segera, jika :<br />
(a) pembukaan  serviks lengkap, persalinan dengan ekstraksi vakum<br />
(b) Pembukaan serviks  belum lengkap, persalinan dengan seksio sesarea<br />
Catatan :<br />
Pada setiap  kasus Solusio plasenta, waspadalah terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan  pasca persalinan</p>
<p>- Jika perdarahan ringan atau sedang (di mana ibu tidak  berada dalam bahaya) tindakan bergantung pada Denyut Jantung Janin (DJJ)  :<br />
(a) DJJ normal atau tidak terdengar, pecahkan ketuban dengan kokher<br />
-  Jika kontraksi jelek, perbaiki dengan pemberian oksitosin<br />
- Jika serviks  kenyal, tebal dan tertutup lakukan Seksio sesarea<br />
(a) DJJ abnormal (kurang  dari 100 atau lebih dari 180/menit)<br />
- Lakukan persalinan pervaginam  segera<br />
- Jika persalinan pervaginam tidak memungkinkan, akhiri persalinan  dengan seksio sesarea.</p>
<p>Koagulopati (Kegagalan Pembekuan  Darah)<br />
Koagulopati dapat menjadi penyebab dan akibat perdarahan yang hebat.  Kondisi ini dapat dipicu oleh Solusio plasenta, kematian janin dalam uterus,  eklampsia, emboli air ketuban dan banyak penyebab lain. Gambaran klinisnya  bervariasi mulai dari perdarahan hebat, dengan atau tanpa komplikasi trombosis,  sampai keadaan klinis yang stabil hanya terdeteksi oleh tes  laboratorium.</p>
<p>Catatan :<br />
Pada banyak kasus kehilangan darah yang akut,  perkembangan menuju koagulopati dapat dicegah jika volume darah dipulihkan  segera dengan cairan infus (NaCl atau Ringer Laktat).</p>
<p>Tangani kemungkinan  penyebab kegagalan pembekuan ini :<br />
- Solusio plasenta<br />
-  Eklampsia<br />
Gunakan produk darah untuk mengontrol perdarahan :<br />
- Berikan  darah lengkap segar, jika tersedia, untuk menggantikan faktor pembekuan dan sel  darah merah,<br />
- Jika darah lengkap segar tidak tersedia, pilih salah satu di  bawah ini berdasarkan ketersediaannya :<br />
(a) plasma beku segar untuk  menggantikan faktor pembekuan (15 ml/kg berat badan)<br />
(b) sel darah merah  packed (atau yang tersedimentasi) untuk penggantian sel darah merah<br />
(c)  kriopresipitat untuk menggantikan fibrinogen<br />
(d) konsentrasi trombosit (jika  perdarahan berlanjut dan trombosit di bawah 20.000)</p>
<p>1.3. Insersio  Velamentosa<br />
1.4. Ruptura Sinus Marginalis<br />
1.5. Plasenta Sirkumvalata</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikenugraha.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikenugraha.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikenugraha.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikenugraha.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikenugraha.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikenugraha.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikenugraha.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikenugraha.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikenugraha.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikenugraha.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikenugraha.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikenugraha.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikenugraha.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikenugraha.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikenugraha.wordpress.com&amp;blog=12348203&amp;post=3&amp;subd=ikenugraha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/patologi-kebidanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/14a3050dae6f7b72ff7f575c50d95a0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikenugraha</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/hello-world/</link>
		<comments>http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 05:01:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ikenugraha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikenugraha.wordpress.com&amp;blog=12348203&amp;post=1&amp;subd=ikenugraha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ikenugraha.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ikenugraha.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ikenugraha.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ikenugraha.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ikenugraha.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ikenugraha.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ikenugraha.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ikenugraha.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ikenugraha.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ikenugraha.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ikenugraha.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ikenugraha.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ikenugraha.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ikenugraha.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ikenugraha.wordpress.com&amp;blog=12348203&amp;post=1&amp;subd=ikenugraha&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ikenugraha.wordpress.com/2010/03/03/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/14a3050dae6f7b72ff7f575c50d95a0e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ikenugraha</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
